Gerimis dikota bali.
Om
swastiastu.
“Selamat malam mas. Kamu, apa kabar? Aku harap kabar baik menyelimutimu. Gimana pekerjaan kamu lancar? Sudah makan? Jangan lupa ibadah ya mas. Minggu depan aku terbang ke bali. Semoga ida sang hyang widhi wasa memberikanmu kasih sayang terus ya mas. Jaga kesehatan, jangan lupa bahagia. I love you mas gusti” Ah, itu ucapanku dulu semasa aku bersamamu. Kini? Tidak ada, melainkan sudah digantikan oleh sosok wanita yang ku lihat kemarin duduk bersebelahan denganmu. Ya, dia adalah calon istrimu.
Saat perjumpaan
kita di bali seminggu yang lalu, ku kira kamu masih seperti dahulu. Menunggu,
mengasihi, dan menyayangiku. Menunggu yang katanya kamu tak akan mencari wanita
lain lagi, bahkan hanya ingin menikah denganku. Mengasihi yang katanya hanya
aku wanita satu-satunya yang kau harap bisa menjadi pendampingmu. Menyayangi
yang katanya hanya aku yang ingin kau sunting di masa depan kelak. Nyatanya dua
tahun kepergianku, tak ada setia bagimu disana mas.
Aku tahu,
aku yang memutuskan untuk pergi. Tapi saat aku bicara, kamu tak merespon
ucapanku. Kamu menahanku, sambil menggenggam kedua tanganku, lalu memeluku
erat. Sambil berkata “Aku sayang kamu. Sejauh dan selama apapun kamu pergi, aku
tetap akan menuggumu kembali ke kota bali tempat kita bertemu.” Lalu mencium
bibir tipisku.
Ah,
aku masih ingat moment di bandara ngurah rai itu. Tapi kenapa saat aku pulang,
kesaksianmu tak nyata ditempat. Ku lihat wanita itu sedang duduk disampingmu
lalu menyuapimu sebuah sup daging kesukaanmu, dulu aku yang berada disampingmu
seperti itu.
Akhirnya,
aku memutuskan untuk pulang ke jogja. Lalu ku lihat dikotak pos ku ternyata
banyak sekali surat darimu mas, tak henti-hentinya kamu menanyakan kabarku,
mengucapkan selamat di hari kelahiranku, dan hari anniversary kita. Meskipun kamu
tahu aku tidak akan membalasnya. Dan disitu pula terdapat undangan pernikahanmu
dengan wanita yang mungkin ku lihat disebuah cafe hitz di bali.
Air mata
bercucuran perlahan membasahi kedua pipi mungilku, aku menyesal karena sudah
meninggalkanmu dengan penuh rasa tanya, mungkin kamu bertanya-tanya, kemana aku
dua tahun ini. Ah, maafkan aku mas. Aku masih menyayangimu, aku rasa kamu pun
begitu.
Tapi,
pasti bagimu semuanya sudah terlambat ya mas. Kamu sudah bahagia dengan
pilihanmu itu. Bahkan kamu lupa dengan niatanmu untuk membahagiakanku. Ah, mas
sekali lagi maafkan aku atas kesalahanku meninggalkanmu. Semoga dia wanita yang
memang dipilihkan Tuhan untuk menyempurnakan separuh agamamu. Semoga bahagia
dari ida sang hyang widhi wasa mu mengasihi kalian selalu. Dan semoga kamu
cepat diberikan gusti-gusti junior kelak. Thapastu.
-Dari
seorang wanita yang menyangimu selalu.
Komentar
Posting Komentar